Ini cerpen gue yang gue tulis pertengahan 2010 lalu, gue sadar banyak banget kata-kata yang salah, yang ga pas, tp gue sengaja tampilin draft aslinya tanpa gue edit lagi, biar banyak yg koreksi, siapa tau ada lebih banyak dari yg gue review sendiri, dan gue tampilin dulu separonya, soalnya cape ngetiknya.. Abisnya soft-copy'nya itu ilang karena komputer di-format terus flashdisk'a ilang.. Jadi sebagian dulu.. Jangan lupa COMMENT buat kritik, saran, ato apapun yg pngn kalian sampein ttg cerpen ini.. Trims.. :D
(dimulai)
Rasakanlah harapan impian yang hidup hanya untuk sekejap...
Rasakanlah langit pucat dekap hangat nafasku..."
Demikianlah penggalan lagu yang mengalun menemani pagiku melalui stasiun radio lokal favoritku. Aku hanya sendirian. Orangtuaku masih sibuk dengan urusan mereka di luar daerah sejak dua hari yang lalu. Kakak perempuanku sudah menikah dan kakak laki-lakiku masih melanjutkan kuliahnya di kota besar. Karena memang kota tempat tinggalku masih disebut sebuah kota kecil, dimana mobilitas tak seperti di kota-kota besar. Semuanya tenang, tapi yang saat itu kurasakan adalah sepi.
Hingga akhirnya kuambil tasku dan kukunci pintu rumahku, lalu kulangkahkan kakiku menuju sekolahku yang berada di ujung gang dimana rumahku berada. Langit pagi yang pucat itupun terus menemaniku menyusuri gang sempit yang padat penduduk itu hingga berubah menjadi langit kelabu. Terasa serbuan titik-titik air membasahi rambutku yang tergerai.
Hari itu, semua terasa hambar. Yang kulakukan di sekolah hanyalah duduk terpaku saat belajar dan diam memandangi wajahnya dari kejauhan saat istirahat. Tak ada yang berubah sejak awal tahun ajaran ini. Suara bel pulang yang sesaat mengejutkankupun tak mengubah kehambaran hatiku itu hingga membuatku ingin segera meniggalkan sekolah.
Setibanya di rumah, ketika semua orang berkata, "Home sweet home!" aku hanya terdiam ketika menjejakan kakiku di lantai rumahku yang dingin. Dan yang kini terasa bukan hanya ayah ibuku atau kakak-kakakku saja yang tak ada, tapi tak ada seorangpun teman untuk bicara. Bahkan para cicak dan semut pun bersembunyi entah dimana. Hanya suara tenang alunan melodi yang lembut yang terdengar dari radio mungil hadiah pemberian pamanku pada ulangtahunku yang ke-16 kemarin yang kubiarkan menyala sejak pagi tadi. Hari itupun terasa begitu menggusarkan hingga tak ada hal apapun lagi untuk diceritakan.
Keesokan harinya, hari hambar itupun masih mebuntuti langkahku. Tapi ada yang berbeda. Pergi kemana dia? Berada dimana dirinya yang selalu kupanangi pada jam istirahat? Rasa ingin tahuku pun membuatku tertahan sejenak di sekolah hingga kelas dimana ia berada sepi. Dan tampaknya hari hambar itu pun memberiku sedikit celah untuk menyenangkan hatiku, agenda kelasnya tertinggal hingga dapat kulihat isinya. Dan kini yang mengganggu hatiku adalah rasa cemas, apakah dia sakit? Atau apa dia mengalami kecelakaan? Dengan segala kecemasanku akan dirinya, aku segera mengambil buku agenda itu dan segera membukanya kucari halaman dimana namanya tertulis, hingga akhirnya aku merasa tenang, di sana tertulis dia sedang izin. Setelah mengetahuinya, akupun segera meninggalkan kelasnya dan langsung melangkah menuju rumah dengan sedikit senyum di bibirku.
Pagi harinya, ketika aku membuka mata aku segara melompat dari tempat tidurku dan berteriak, "Hari ini Papa sama Mama pulaaang!!" Entah mengapa, aku merasa begitu bahagia. Akupun bergegas menuju kamar mandi dan setelah selesai membersihkan diri akupun dengan semangat memilih pakaian. Bak seorang gadis yang sedang dimabuk asmara. Tapi kupikir tak ada masalah jika aku bersemangat untuk menghadapi hari ini selain karena orangtuaku pulang, akupun merasa semakin bosan menyikapi hari-hari hidupku sebagai hari-hari yang hambar.
Maka dari itu kumulai untuk mencoba mengatasi hari-hari hambarku dengan memikirkan hal baru yang belum pernah kulakukan, salah satunya adalah berhentinya memandangi dirinya dari kejauhan. Tapi bukan berarti aku berhenti menyukainya, melainkan aku ingin mencoba untuk mulai memandangnya lebih dekat. Dan hari itu kucoba untuk menyapanya. Karena hari itu aku hampir terlambat, makaku pikirkan cara untuk menyapanya saat istirahat. Sepanjang pelajaran kucoba untuk menemukan cara dan momen yang tepat untuk menyapanya, hinga akhirnya kucoba cara yang bisa dikatakan garing, aku akan berpura-pura tidak sengaja menabraknya setelah aku meminjam buku dari perpustakaan, sehingga akan ada alasan untuk aku memandangnya lebih lama.
Sambil memeluk erat-erat beberapa buku yang kupinjam secara sengaja, kuterus melihat ke arah kelasnya dengan berharap ia akan segera keluar. Tapi yang kuharapkan tak kunjung datang, tapi bukan berarti aku tidak berhasil menyapanya, karena tiba-tiba terdengar suara gagah dari belakang punggungku yang mengejutkanku dan sekaligus menyenangkanku, "Ehm! Kok daritadi cuma berdiri di sini??" "Ehh, Aduh!!" teriakku sambil menjatuhkan buku-buku perpustakaan itu hingga berserakan. "Eh, uh, halo!!" ma..maaf jadi berantakan. Bi..biar saya aja yang beresin", ucapku sambil tertunduk malu tanpa berani menatap wajahnya tampannya. "Udah sini, biar saya bantuin, kan saya yang bikin kamu kaget. Gimana??" tanyanya. "Apanya yang gimana??" tanyaku kembali sambil bingung memikirkan apa maksudnya. "Itu, kakimu. Kakimu ga apa-apa kan?? Soalnya buku yang kamu bawa tebel-tebel, sampe ada kamus segala. Takutnya kaki kamu ketimpa" katanya sambil mengangkat kamus bahasa Perancis yang aku pinjam. Tapi entah mengapa aku tak mampu berbicara, kuhanya dapat diam terpesona. Ahh, betapa perhatiannya. "Hei??!", suara gagah sedikit parau itu mengaburkan lamunan sejenakku. "Ehh!! Oh, ga apa-apa kok, iya beneran ga apa-apa" seruku terkejut. Hingga akhirnya kurasakan tubuhku mulai gemetar, gugup, panas-dingin rasanya. Arrgghh, kenapa harus sekarang gugupnya, padahal ini kan kesempatan langka. Dan akhirnya akupun jadi salting dan segera berdiri, "Uhh, makasih ya, a..a..aku aku.. aku udah ditungguin sama..sama temen, udah yahh.. Makasih, dadahh!!" ucapku terburu sambil mengambil langkah cepat menjauhinya. Saat itu perasaan begitu campur aduk, keringat masih membasahi leherku, entah bagaimana perasaanku saat itu. Bahagiakah? Atau malah merasa bertingkah bodoh? Ahh, sudahlah kita tinggalkan saja dia untuk sesaat, setidaknya hari ini aku sudah memberi garam di dalamnya.
(Bersambung...)
No comments:
Post a Comment